Jumat, 20 Juni 2014

Seorang Ibu Seharusnya (Bukan) Diktator

“Ris, nanti sore nonton yuk?”

“Ditraktir gak? Haha.” Tawaku bergema.

“Lagi bokek, Ris. Tapi gak apa-apa, deh. Daripada gak ada temennya nonton. Kelihatan jomblo banget. Haha.”

“Nah, gitu, dong. Jam 5, ya? Lo jemput gue ke rumah, kan?”

“Siap komandan!”

“Ya udah gue pulang dulu, ya.”

“Oke. Hati-hati, ya!”

Dan aku pun melangkahkan kakiku menuju sebuah tempat yang lebih layak disebut penjara daripada rumah.

ᴥᴥᴥ


“Darimana? Les opo ngluyur  jam segini baru pulang? HP-mu itu dibuat apa? Disms gak dibalas.”

Aku menelan ludah. Lagi-lagi ada sesuatu yang seperti menghimpit saluran pernapasanku, sesak.

“Kalau ditanya itu dijawab. Jangan mbisu kayak gitu.”

“Kan tadi aku sudah sms sampean. Ada tambahan sampai jam 2 siang.”

“Halah! Alasan. Mosok tiap hari tambahan? Gak usah cari-cari alasan. Aku ini bukan orang goblok!”

“Bu, saya capek. Saya lapar. Kalau Ibu gak percaya ya sudah.”

Tubuhku beranjak dari tempatku berdiri. Meninggalkan ibuku yang masih berapi-api. Terbakar amarah yang disulutnya sendiri. Sorot mata tajam tak henti memandangi tubuhku yang beringsut pergi. Pertengkaran seperti inilah yang terjadi setiap hari di antara kami. Hal kecil yang menggelembung jadi besar, itulah penyebab semua ini.

Ibuku bukan wanita lemah lembut yang tutur katanya menyejukkan indra pendengar juga hatiku. Kata-katanya lebih seperti duri yang siap melukai sanubariku, seperti sembilu yang siap menyayat dinding hatiku, dan seperti awan cumulusnimbus yang siap memporak-porandakan keyakinan hatiku. Aku sering bertanya-tanya apakah semua ibu di dunia ini sama seperti ibuku? Apakah cara semua ibu mendidik anaknya untuk menjadi orang sukses sama seperti cara ibuku?

ᴥᴥᴥ

Aku sibuk menyantap makananku ketika ibuku tiba-tiba datang dengan sorot mata seperti biasanya, penuh amarah.

Sek, Ris. Aku tanya, kowe itu sebenarnya mau jadi apa ngambil jurusan kuliah itu?” Pertanyaan yang sudah puluhan kali dilontarkan ke arahku.

Aku diam saja. Masih tetap menikmati makananku.

“Ris, kowe opo budeg? Kalau ditanya itu dijawab.”

“Enggak, Bu.”

“Kalau kamu kuliah cuma buat main-main atau nyari ilmu, cari tempat kuliah yang murah. Sebenarnya mau jadi apa kalau sudah lulus? Pegawai negeri atau pegawai swasta?”

“Ya jelas saya pilih pegawai negeri, Bu. Mana ada orang mau milih hidup susah kalo ada yang enak.” Walaupun dalam hati bukan itu jawaban yang sesungguhnya, tapi paling tidak jawaban itu akan menyenangkan hati ibuku.

“Kalau ngomong sama ibu itu jangan bentak-bentak kayak gitu. Aku ini ibumu bukan koncomu.”

“Salah lagi, kan? Gimana sih, Bu, caranya biar saya itu benar di mata ibu?”

Kowe berani bentak-bentak ibu? Kamu itu anak manusia apa anak setan? Ditanya baik-baik jawabnya malah bentak-bentak.”

Mataku panas. Kerongkonganku seperti tercekik.

“Jangan nangis, Ris.” Kata hatiku menguatkan diriku sendiri.

“Bu, sampean pengen aku jadi kayak gimana? Pengen aku jadi apa? Guru? Pegawai? Atau robot?”

Kowe saiki berani yo sama aku. Dasar! Anak gak punya sopan santun.”

Kata-kata yang disertai kilatan amarah itu menyambar hatiku. Membangunkan deretan luka lama yang sudah mati-matian kukubur dalam-dalam. Rasanya aku ingin berlari dari sini. Pergi sejauh mungkin dan tidak kembali.

Aku terlempar pada kepingan masa lalu sewaktu masih duduk di bangku SD. Aku kabur ke rumah nenek. Berjalan tergesa diiringi ketakutan karena amarah ibuku. Sesampai di rumah nenek aku bersembunyi di kolong tempat tidur. Didera ketakutan aku menangis terisak-isak. Air mata bercampur ingus membasahi bajuku.

Ketika orang tuaku datang menjemputku, aku menjerit tidak mau pulang. Lalu terbesit pemikiran, “Bagaimana kalau nanti ibu jadi gila karena aku nggak mau pulang?” Karena kekhawatiran itu mengalahkan ketakutanku pada amarah ibuku, keesokan harinya aku meminta nenek untuk mengantarku pulang. Sekalipun hatiku sudah dipenuhi goresan luka karena kata-kata ibuku, tapi aku tidak benar-benar mampu meninggalkan ibuku. Jangan ditanya bagaimana rasanya menahan perihnya luka, sakit.

Dan rasanya, hari ini aku ingin kembali mengulang perbuatanku dulu. Pergi, tapi tidak kembali. Pundakku sudah tidak kuat menahan beban hati yang seperti dihimpit batu. Salahkah aku jika memilih pergi? Salahkah aku jika meminta ibu pengganti? Aku anak durhaka yang tidak mau bersyukur? Apakah aku yang salah?

“Tuhan, saya tahu saya punya skenario hidup sendiri. Saya juga tahu jika pada akhirnya skenario saya akan berakhir bahagia. Saya juga tahu bahwa waktu akan terus berjalan dan tidak pernah berhenti. Tapi,bolehkah saya yang berhenti sejenak untuk mengeluh, untuk menangis, untuk menghimpun kekuatan baru lagi, bolehkan? Hari ini saya rapuh, tapi besok saya pasti sudah kembali jadi perempuan kuat. Izinkan saya, Tuhan. Maaf hari ini saya cengeng sekali, sok-sok-an paling menderita, sok-sok-an jadi manusia yang cobaannya paling berat sendiri, maafkan saya, Tuhan. Maafkan saya jika saya lebih sering seperti ini, maaf.”

Ndang bersih-bersih rumah kono. Anak kok gak tau penggawean. Kerjanya males-malesan. Coba kalo aku iki gak ngomel-ngomel kayak gini, palingan kamu cuma makan, tidur, makan, tidur. ”

“Ya, Bu.” Aku menjawab singkat, telingaku sudah panas.

ᴥᴥᴥ

Aku memandang bayanganku yang terpantul dalam cermin. Kemudian, aku mengambil body lotion dan mengusapkannya pada tanganku. Kudekap tubuhku. Tiba-tiba aku merasa rapuh dan lemah.

Lalu terdengar suara pintu diketuk. Aku menggelengkan kepalaku, lalu keluar dari kamarku menuju ke arah pintu utama.

“Eh, Hani. Masuk, Han.”

“Udah siap? Langsung cabut, yuk!”

“Bentar, gue ambil tas dulu, ya.”

Aku berlari meninggalkan Hani yang belum sempat kupersilahkan masuk.

“Mau kemana?”

“Keluar.” Aku menjawab singkat. Aroma tidak diizinkan keluar oleh ibuku mulai tercium.

“Halah. Gak usah. Kowe iku koyok gak krasan neng omah ae. Ora usah.

Nah! Benar kan.

“Udah ditunggu Hani, Bu. Lagian aku itu mau refreshing. Capek belajar terus.”

“Loh, dibilangi gak usah ya gak usah. Nonton TV kui yo refreshing. Gak usah aneh-aneh kamu. Belajar ae, daripada dolan ngabisin duit.”

Kubalikkan badanku, tidak peduli dengan ibuku yang masih menghujaniku dengan tatapan tajamnya.

“HEH! MAU KEMANA KAMU? BERANI SAMA ORANG TUA!”

Berani? Sebenarnya saya takut, Bu. Saya selalu diliputi ketakutan disebut sebagai anak durhaka yang tidak tahu terima kasih, karena itu saya bertahan disini. Tapi, entah kenapa sebagian hati kecilku kali ini berusaha melawan. Mungkin karena tidak sanggup lagi bertahan.

Jika saja sebelum dilahirkan ke dunia, Tuhan memberi kesempatan untuk memilih orang tua yang sesuai dengan keinginanku, maka saya akan memilih orang tua seperti Bu Ayu, tetangga kita itu. Tapi, kemudian saya tersadar. Bahwa, Tuhan menitipkan saya pada rahimmu karena Tuhan tahu, Ibu adalah yang terbaik untukku.

Tapi, Bu, jangan perlakukanku seperti robot. Saya bukan pantulan bayangan Ibu ketika bercermin. Saya adalah saya. Sekalipun saya adalah anakmu, tapi bukan berarti saya harus seperti bulan yang terus mengitari bumi. Saya berhak mandiri. Saya berhak menciptakan lintasan orbit sukses saya sendiri. Tentu dengan dorongan dan semangat dari Ibu. Saya bukan apa-apa tanpa Ibu. Saya sadar, saya tahu.

Saya adalah anak panah yang berhak menentukan arah, kemana saya harus melesat. Tentu saya tetap membutuhkan busur panah, dan busur itu adalah Ibu. Bu, jangan seperti diktator. Yang tidak pernah mau tahu tentang keinginan saya, tentang cita-cita saya, tentang apa yang saya suka dan apa yang tidak saya suka. Sungguh, saya tidak pernah suka dipaksa, Bu. Apalagi disama-samakan seperti bayangan ibu.

Bu, haruskah seorang ibu bertindak seperti diktator untuk melihat anaknya sukses? Tidak bisakah kita duduk berdua saling berhadapan, membicarakan masa depan dengan lemah lembut dan penuh senyuman? Bukan dengan amarah dan tatapan tajam yang menusuk? Yang membuat nyali saya menciut, yang membuat kepala saya dibakar pemikiran-pemikiran jahat tentang ibu. Bu, saya sayang ibu, walaupun terkadang saya tidak sengaja terasuki rasa benci. Maaf, Bu.

ᴥᴥᴥ


Kediri, malam hari H+2 SBMPTN. Terinspirasi dari seseorang.

21 komentar:

  1. Paling suka kalimat yang ini "Saya berhak mandiri. Saya berhak menciptakan lintasan orbit sukses saya sendiri"

    Btw, ini cerita pengalaman pribadi atau bukan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih, iqbal :)
      pengalaman orang banyak sih hehe

      Hapus
  2. Wah, spechless.

    Terus ngomong-ngomong itu anaknya jadi nonton gak?
    *komen nya nyasar kemanaaa... lagi :3

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe makasih :)
      jadi, kan dia ninggalin ibunya yg lagi ngomel-ngomel :D

      Hapus
  3. Salut banget sama sang anak :)
    Setiap ibu punya cara sendiri untuk menyampaikan rasa sayang walaupun terkadang kita kurang bisa menerima caranya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya setuju :)
      namanya juga manusia, dikasih begini mintanya begitu :D

      Hapus
  4. Ibu yang kayak gitu pasti punya latar belakang kehidupan yang sesuatu, ingin anaknya baik tapi mungkin caranya belum baik... eh itu kayak ibu gua yang kedua, *halah

    BalasHapus
  5. Ini..pernah sih ngalamin ini, tapi gak separah kayak gini :)) serba salah emang, tapi komentarnya restu ada benarnya juga hehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyakah? waah :)
      setuju sama komentarnya Restu kok :')

      Hapus
  6. Kalo gue yang kayak gitu bokap, bener banget persis kayak gitu. tapi selalu ada ibu yang ngebela :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. semangat ya! ^^
      mereka sayang kamu kok :)

      Hapus
  7. Bookmarked! nanti dibaca:3

    BalasHapus
  8. gue gak tahu mau komentar apah... karena seringkali baik ibu dan anak bisa saja benar dan bisa saja salah... seperti seorang anak yang berjuang menentukan orbitnya mencari ilmu ke tempat jauh dan ibunya tidak ikhlas dan berkata ankanya akan memperoleh musibah, walhasil di akhir sang anak kembali setelah tubuhnya dalam keadaan cacat, dan sang ibu juga tidak bisa merawat karena usia tua dan sakit-sakitan. memang, sepertinya merundingkan bersama agar bisa memahami hati ke hati adalah pilihan. karena meskipun kita anak panah yang bebas melesat, ada busur yang harus meridhoi kita unyuk melesat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah iya, memang bicara berdua tanpa melibatkan amarah memang merupakan jalan terbaik :)
      unyuk itu apa, bang? :p typo, tuh :p
      setuju kok, bang :))

      Hapus
  9. setiap ibu emang punya cara sendiri dalam mendidik anaknya mungkin beberapa cara dianggap sang anak lebay dan ga masuk akal. tapi yakinlah apapun itu beliau tetap ibu kita yang harus kita sayang dan hargai meskipun itu ga mudah untuk dilakukan. btw good story aku suka tulisan mu mba :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, mbak setuju :) apapun yang terjadi beliau tetap ibu kita :)
      makasih, mbak :)

      Hapus
  10. Pas baca postinganmu yang ini, tiba2 gue ketawa2 sendiri padahal dunia tau ini g lucu. Nangis2 sendiri, soalnya g ada yg nemenin makanya nangisnya sendiri :'(
    Smangat buat lilis. Nulis udah, saatnya buat ngomong!

    BalasHapus
    Balasan
    1. dasar santi labil :p
      ngomong apa, San? -_-

      Hapus

Komentar adalah caraku untuk mengendus jejakmu *halah*. Hayo, komentar biar gue bisa ngendus jejakmu! Haha :D