Minggu, 08 Juni 2014

Kini Aku Percaya

Sabtu,19 Juli 2014

Hari ini tepat 55 hari aku memutuskan untuk menjauh, setelah kegalauan panjang yang tak henti-hentinya membuat mataku selalu terjaga. Hampir benar-benar membuatku gila.

Dan kini aku percaya. Betapapun kerasnya aku mencoba membohongi kata hati, semua itu tak akan bisa. Setebal apapun tabir yang kututupkan pada mata hatiku, itu tak akan pernah mampu memudarkan bayangmu yang telah lama menetap tanpa ada kata paksa. Setidaknya untuk saat ini aku belum bisa. Tidak apa-apa. Aku menikmatinya. Kamu tidak perlu mencemaskanku dan mengalihkan perhatianmu darinya. Hatiku baik-baik saja. Meskipun nyatanya aku sedang tertatih menahan air mata.


"Bukankah tidak ada yang bisa kita lakukan selain menerima takdir dengan lapang dada?" Seperti katamu dulu.

60 hari yang lalu, kita baru saja mengecap rasa bahagia. Tapi, terenggut lagi karena dia. Ah, dia. Wanita yang juga mencintaimu dengan sepenuh hatinya. Bahkan mungkin, rasa cinta yang kumiliki tak ada apa-apanya dibandingkan dia. Dia yang selalu berdiri di tengah-tengah kita. Dia yang membuat kita berani melakukan adegan paling berbahaya. Yaitu, keegoisan yang membuat kita diam-diam mengungkap rasa. Dan menjalin cerita di atas lengkingan rintihan luka. Luka hatinya karena kita. Huhhhh—berani-beraninya kita mencoba menyalakan api yang diselimuti kata bahagia. 

Memang...ini benar-benar takdir Tuhan untuk kita. Aku percaya pada waktu, pada takdir, dan semua akan kembali baik-baik saja.

ᴥᴥᴥ

Senin, 19 Mei 2014

Senja itu kita duduk berdua. Di atas balkon, menatap langit kebiru-biruan dengan semburat kemerahan, menikmati hembusan angin yang membelai manja wajah kita, menelan butir-butir kebahagiaan yang tercipta.

“Allan?”

“Ya, sayang?”

Kamu ingat tidak, waktu itu kali pertama kamu memanggilku dengan sebutan “sayang”, canggung dan malu-malu, tapi aku suka. Entah bagaimana caranya aku sangat ingin mengabadikan suara panggilanmu, dan mendengarkannya kembali, ketika rindu diam-diam mulai merambati jiwa. Atau setidaknya, aku punya sesuatu yang akan membuatku tertidur, ketika aku mulai dijerat insomnia karena sibuk menghadirkan bayang wajahmu di tengah malam gelap gulita.

“Kok bengong? Kenapa sih, Lis?”

Aku hanya tertawa. Tanpa tahu apa yang menyebabkan tawaku bergema. Tiba-tiba kamu memegang lenganku kuat, menarik tubuhku, merekatkannya pada tubuhmu, kaku, mungkin karena itu pelukan pertama. Perlahan, aku melingkarkan kedua tanganku pada lehermu, mencoba membalas pelukanmu, telapak tanganku menyentuh tubuhmu yang terbalut kemeja. Hangat, walaupun belum terbiasa. Haha—aku tertawa mengingat pelukan pertama kita.

Lama. Kita berpelukan lama sekali, sampai sebuah suara berdendang di telinga.

“Alise? Allan?”

“Eh—Winda?

“Kalian ngapain? Oh? Jadi, ini yang kalian lakukan di belakangku?”

Aku bisa merasakan perih goresan luka baru yang tercipta. Aku bisa merasakan hawa panas yang menyelubungi tubuhnya. Aku bisa melihat sendu yang menghiasi wajahnya. Wajahnya yang pura-pura bahagia padahal sebenarnya sedang berduka. Ah, Winda. Jangan anggap aku sahabat lagi, sudah cukup banyak lembar kebohongan yang selama ini sengaja ku buka.

Lalu, kita hanya membisu, membiarkan udara yang berbicara. Mewakili suasana hati yang tak mampu dilisankan dalam bentuk kata-kata. Melepaskan karbondioksida, menghirup oksigen, tapi itu justru membuat sesak, menyiksa. Malam ini dingin, tapi lain dengan kita. Kita seperti di atas bara. Berdiri mematung tanpa ada suara. Sampai Winda memutuskan untuk pergi, seiring dengan jatuhnya air mata. Dan aku berjalan tergesa—mengejarnya. Tapi, kamu tetap bergeming di tempatmu berdiri, sibuk menenangkan detak jantungmu atau mungkin—kamu sudah tidak peduli dengan Winda.

Mungkinkah ini takdir Tuhan untuk kita?

“Win?”

“Jadi selama ini kamu khianati aku, Lis? Kamu tahu nggak, Allan itu udah dijodohin sama aku. Kalau keluargaku dan keluarga Allan tahu kamu dan Allan coba-coba menjalin hubungan, yang kecewa bukan cuma aku, Lis. Tapi mereka juga merasakan hal yang sama seperti yang aku rasain. Lagian dari sekian banyak pria yang mendekati kamu, kenapa harus Allan, Lis? Kenapa? Apa mereka tidak cukup kaya? Apa mereka tidak cukup pantas berdiri di sampingmu? Lis, Allan itu buat aku. Bukan buat kamu. Ingat itu!”

“Win, aku...” dan kalimat itu menggantung tak terselesaikan, menguap di udara.

“Aku capek harus selalu mengalah buat kamu.” Kali ini aku benar-benar mengungkapkannya—dalam hati yang tercabik sembilu, berdarah-darah, dan putus asa.  

Dan Winda berlalu, seiring dengan keringnya air mata. Mungkin jijik melihat sahabat yang menghianatinya. Aku menutup mata, menarik nafas dalam dan menghembuskannya.

Win, kamu ingat nggak, Si Arza yang dulu sewaktu SMA memintaku jadi pacarnya, tapi aku tolak, karena tahu kamu menyimpan rasa untuknya. Atau gaun merah yang kuhadiahkan untukmu sewaktu kamu berulang tahun yang ke-17, padahal aku harus mengencangkan ikat pinggangku 2 bulan untuk bisa membelinya. Aku memberikannya untukmu, karena tahu kamu juga sangat mendambakannya. Atau anak OSIS yang memintaku untuk jadi MC sewaktu perayaan ulang tahun sekolah, tapi aku berbohong tidak bisa hadir hari itu, lalu aku memintamu menggantikanku dan kamu berjingkat gembira. Semua itu karena aku tak kuat memandang ekspresi anehmu—mungkin iri, maka aku lebih memilih melepaskannya.

Win, aku juga selalu membawa-bawa namamu saat aku sedang bersama Allan, aku bercerita tentang kita, tentang kita yang seperti pinang dibelah dua, tentang kita yang berjanji bersahabat selamanya. Tapi, Allan selalu membuang muka, mendengus kesal, setiap kali aku bercerita tentang kita, lebih tepatnya tentang kamu, kamu yang sebentar lagi akan menjadi teman hidupnya.

Jadi, selama kita bersahabat, rasanya aku kan yang banyak mengalah untukmu, walaupun terkadang aku melakukannya karena terpaksa. Bukan, bukan maksudku mengungkit-ungkit apa yang terjadi di masa lalu, tapi dada ini terlalu sesak menahan semuanya.

Kali ini, apa aku harus mengalah lagi, berpura-pura menjadi wanita yang rela melepaskan apapun untuk sahabatnya, menutup lembaran cerita yang baru saja terbuka, atau menutup mata dan melupakan segalanya? Mungkin memang harus seperti itu ya, akhirnya. Ah, Winda. Iya, aku akan berpura-pura rela. Lagi-lagi mungkinkah ini memang takdir Tuhan untuk kita? Tapi, Win, kenapa sesulit ini untuk merelakan semuanya?

ᴥᴥᴥ

Kamis,19 Juni 2014

Aku memutar peristiwa yang terjadi 30 hari yang lalu, di sini, di tempat sekarang aku berada. Berteman kesendirian dan luka. Sebuah tempat yang dihuni orang gila. Rumah sakit jiwa. Ya, aku memilih berpura-pura gila. Terlalu lelah untuk mencoba ikhlas dan berdamai dengan rasa kehilangan yang membuat kepingan hatiku semakin tak berdaya. Aku juga lelah karena melihat orang tuaku kelimpungan mencari penggantimu setelah mereka tahu kamu akan menikah dengan Winda bulan depan, hingga akhirnya mereka angkat tangan—menyerah, dan itu semakin membuatku terluka. Aku juga lelah mendengar suara tangis mamaku, yang berdiri di depan pintu kamar tidurku, bercampur suara tangis beliau memanggil namaku dengan iba.

“Alise, Mama rindu kamu yang dulu, Nak. Mama rindu kamu yang senang memeluk mama tiba-tiba. Kita semua rindu kamu yang ceria, Nak. Alise...”

Atau kalimat sederhana seperti ini, “Alise, kamu makan ya, Nak. Nanti kamu sakit. Mama, suapin ya?”

Atau seperti ini, “Alise, kamu tidak boleh larut dalam kesedihan. Kamu sudah dewasa, Nak. Sudah waktunya kamu menatap kesedihan itu dan melibasnya. Kamu anak mama yang kuat, Alise.”

Aku tersiksa dengan itu semua. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk memainkan skenario yang kuanggap bisa membuatku lega. Aku membanting semua barang-barang yang ada di kamarku, memecahkan cermin riasku, menggunting semua baju yang tergantung di almariku, dan mengacak-acak rambutku—sampai hampir mirip seperti orang gila. Lalu, 5 hari yang lalu, keluargaku dengan berat hati membawaku ke rumah sakit jiwa.

Sebenarnya, aku juga tidak yakin cara ini akan berhasil membuatku melupakanmu—atau setidaknya menganggapmu hanyalah cerita lama yang pantas untuk ditimbun dan tidak lagi dibuka. Tapi setidaknya cara ini berhasil sedikit meringankan bebanku, aku tidak lagi melihat  raut sedih mama setiap hari, tidak lagi mendengar suara tangis mama yang terdengar putus asa.

Allan...Aku menyesal, karena tidak memperjuangkan cinta kita. Aku menyesal karena menulis tiga baris kalimat—memo di smartphone hitamku, yang menghancurkan harapan untuk kita bisa bersama. Aku dungu karena membiarkan kamu terluka. Dan aku jahat karena sekarang aku sedang berusaha menutup lembaran kisah kita.


"Lis, aku dijodohkan dengan Winda. 19 Juli nanti aku akan menikah dengannya. Tapi, aku nggak mau, Lis. Aku sayang kamu, bukan Winda. Aku mau hidup dengan kamu, bukan Winda, Lis."

Aku masih mengingat dengan jelas kata-katamu dulu, kamu memegang tanganku, dan matamu meyakinkanku bahwa kamu bersungguh-sungguh, tapi sekarang, kenyataan ini yang harus kita hadapi bersama.

Allan, mungkin, beberapa hari setelah kamu menikah dengan Winda, kamu akan merasa tersiksa. Karena kamu belum mencintainya. Kamu boleh membayangkan wajahku ketika sedang bercumbu dengannya. Anggap saja itu aku, anggap saja yang sedang tertidur di sampingmu itu aku, anggap saja yang selalu mengecup pipimu di pagi hari itu aku, anggap saja yang selalu membuatmu tertawa itu aku, tapi cukup beberapa hari kamu melakukan itu, selanjutnya kamu harus menyadari bahwa itu Winda. Jangan terlalu lama menyakitinya. Tenang—lama-lama kamu akan terbiasa. Dan melupakan aku, lalu hidup bahagia dengan Winda selamanya.

"Bukankah tidak ada yang bisa kita lakukan selain menerima takdir dengan lapang dada?" Kamu masih ingat kan?

Biarkan aku menikmati penyesalanku, biarkan aku memungut pecahan hatiku, lalu menyatukannya kembali, hingga aku merasa siap untuk menatap dunia. Aku tidak keberatan berpura-pura gila, asal aku berhasil menenggelamkan kegelisahanku karena tak bisa mendengar suaramu yang terngiang di telinga.

Allan, aku masih tetap mencintaimu—mungkin sampai nanti, aku masih tetap akan merindukan suaramu, seperti tanah kering yang merindukan hujan, dan aku berjanji, setelah aku puas berpura-pura gila dan puas menikmati luka, aku akan berbahagia. Secepatnya.

Ah ya, aku pernah membaca sebuah buku dan menyukai quote yang ada di dalamnya. Begini, “... Di atas semua cerita, jodoh bukan cuma soal perasaan. Semoga Tuhan menyembuhkan semua hati yang terluka.” Cocok untuk kalian berdua. Allan dan Winda. Allan...berjanjilah untuk belajar mencintai Winda.


Aku percaya semua ini takdir Tuhan dan seperti katamu dulu, "Lis, hidup selalu indah pada waktunya. Dan Tuhan tak pernah tertidur untuk melupakan mereka yang percaya pada takdirnya.”

ᴥᴥᴥ

Kediri, sedang bahagia. Haha,

35 komentar:

  1. hahaha. asyik quote yg terakhirnya... :D
    btw, template blognya baru ya..

    BalasHapus
  2. Haduh, baca ini...

    #FreePukPukUntukLilis :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. bukan Lilis bang -_- tapi Alise, bedaaa

      Hapus
  3. Duuuhhhh qoutes-nya itu loh.... :')

    BalasHapus
  4. eh kak, boleh tanya nggak?
    Headernya itu bikin sendiri? keren loh

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, bikin sendiri. lebih tepatnya dibikinin temen :D

      Hapus
  5. Galau banget di awal.. keren pas di akhir Zom.. :))))

    BalasHapus
  6. Tulisannya bagus lis, kenapa gak ikutan acara nulis buku jamban blogger ? JB lagi bikin buku lagi loh? gak ikutan? :)))

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih :)
      JB temanya horor, gue masih belajar nulis romance :D

      Hapus
  7. ceritanya panjang. Jadi aku tidak baca sampai habis mbah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya gpp :) makasih udah nyempetin baca :)

      Hapus
  8. hmm, kalo hasil postingan efek galaunya bisa sepanjang itu, berarti kecewa yang dipendam banyak ya?

    BalasHapus
  9. Semakin novel aja nih tulisannya :D

    BalasHapus
  10. Hai, salam kenal. Baru pertama blogwalking udah disuguhin cerita yang menarik. :)

    BalasHapus
  11. Asik kaan yang lagi bahagia. Kalimat pembukanya lucu euy. :))

    BalasHapus
  12. Gue sampai bela-belain untuk bermenit-menit baca ini postingan. Biar lebih ngena lagi, kok keren gitu kata-katanya. :)

    BalasHapus
  13. Setelah membaca ceritamu, kini aku percaya *lho lha?

    BalasHapus
  14. haloo baru pertama blogwalking kesini, salam kenal lilis. tulisannya bikin saya jatuh cinta :)) kereenn bangettt ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hai reny :)
      makasiiih ya :)
      jgn lupa balik lagi :D

      Hapus
  15. wiiih bagus rek... tak kirain kmu di dalam cerita itu..

    BalasHapus

Komentar adalah caraku untuk mengendus jejakmu *halah*. Hayo, komentar biar gue bisa ngendus jejakmu! Haha :D