Minggu, 22 Juni 2014

Cinta Sejati Selalu Menemukan Jalan

Dentingan lagu Afgan – Jodoh Pasti Bertemu mengalun lembut di kamarku yang tidak terlalu besar. Aku duduk di karpet hitam yang melapisi lantai kamar. Jam digital di pojok desktop notebook pinkku menunjukkan pukul 23.08. Sepasang mataku masih terjaga. Baru saja kuucapkkan “Selamat malam, have a nice dream.” untuk seseorang yang terpisah jarak dan ruang dariku. Dia bukan siapa-siapaku, tapi dia spesial untukku. Paling tidak sampai saat ini dia masih tetap spesial seperti kemarin, entah beberapa jam lagi, entah besok, entah minggu depan, entah bulan depan, entah tahun depan, aku tidak tahu.



Ah ya, malam ini aku tak kunjung menemui sang mimpi karena masih tergila-gila dengan buku baruku—Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah karangan Tere Liye. Membuatku terhipnotis untuk terus membelai lembaran demi lembarannya. Menggerakkan bola mataku untuk terus mengeja rangkaian kata yang terketik rapi di setiap halamannya. Kemudian, mencium aroma khasnya perlahan, pelan-pelan.

Ah, aku benar-benar sudah menyematkan seluruh perhatianku pada buku ini, sampai tak memperhatikan bahwa langit sudah hitam kelam, sudah larut malam, dan sudah waktunya menjemput sang mimpi yang sudah sibuk menggerutu. Tapi tetap saja aku enggan membaringkan tubuhku.

“Cinta sejati selalu menemukan jalan, Borno. Ada saja kebetulan, nasib, takdir, atau apalah sebutannya. Tapi sayangnya, orang-orang yang mengaku sedang dirundung cinta justru sebaliknya, selalu memaksakan jalan cerita, khawatir, cemas, serta berbagai perangai norak lainnya. Tidak usahlah kau gulana, wajah kusut. Jika berjodoh, Tuhan sendiri yang akan memberikan jalan baiknya. Kebetulan yang menakjubkan...” – Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah

Percakapan Borno dan Pak Tua itu mengingatkanku pada temanku. Yang katanya sebentar lagi akan ditinggal pergi kekasih atau siapanyalah itu. Yang kemarin-kemarin ketika kutemui sedang bermuka kusut, mirip kertas kucel bungkus cabe di pasar.

Mungkin risau, karena sebentar lagi berpisah. Mungkin takut, jika beberapa tahun lagi ketika mereka bertemu, mereka sudah tak saling cinta lagi, atau yang lebih parah, salah satu dari mereka menemukan tambatan hati yang baru. Who knows? Besok adalah misteri. Kita hanya bisa menebak-nebak. Tapi, seperti kata Pak Tua, cinta sejati selalu menemukan jalan. Percaya, kan?

Cinta bukan kalimat gombal, cinta adalah komitmen tidak terbatas, untuk saling mendukung, untuk selalu ada, baik senang maupun duka. – Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah

Jika memang cinta, setialah menunggu dalam balutan rindu sampai waktu berkata, “Ya, kalian sudah pantas bersama.” Cinta adalah perbuatan. Bukankah menunggu itu perbuatan? Pembuktian bahwa kalian memang saling cinta? Haha. Sok tau sekali aku ini. I know, it’s not easy. But hey, life must go on. Berdoa saja, jika memang jodoh Tuhan pasti sudah menyiapkan jalan, jika tidak ada jalan, itu berarti dia bukan jodohmu. Sederhana saja.

“Dunia ini terus berputar. Perasaan bertunas, tumbuh mengakar, bahkan berkembang biak di tempat yang paling mustahil dan tidak masuk akal sekalipun. Perasaan-perasaan kadang dipaksa tumbuh di waktu dan orang yang salah.” – Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah

Seperti aku dan dia. Kita sama-sama jatuh cinta—di waktu yang tidak tepat. Sementara kita sama-sama tidak kuasa menghindar untuk tidak jatuh cinta. Mungkin, ada pihak yang tersakiti. Mungkin ada banyak orang. Ada yang diam-diam membicarakan lukanya di belakang, ada juga yang tidak tahan, kelimpungan, dan akhirnya diungkap juga di depan umum. Tapi, seperti kata Fahd Djibran dalam bukunya—Perjalanan Rasa, “...Tentu saja ada beberapa orang yang tidak menyukai percakapan ini, kebersamaan dan keakraban kita, tetapi kita tak perlu terus-menerus peduli pada perasaan dan pikiran orang lain, kan?”

Aku dan dia bukan pemuja status ‘aku milikmu dan kamu milikku’. Bukan sepasang remaja yang ketika jatuh cinta kemudian tergesa-gesa mengikat satu sama lain. Bukan pula pemuja teori ‘perasaan manusia itu konstan. Tidak berubah’. Kita sama-sama sadar, “Perjalanan kita masih panjang. Selama belum ada ikatan kita bisa saja jatuh cinta pada orang lain. Semua itu mungkin saja terjadi. Tapi, jika bisa jangan melakukan itu, ya?”

Lalu, apa yang bisa kita lakukan? Menunggu sang waktu. Cinta sejati selalu menemukan jalan.


Maaf, mencuri waktumu untuk membaca cerita menye-menyeku ini :p

33 komentar:

  1. Kayaknya pengalaman pribadi, nih hahaha. paling suka kalimat yang "....Perasaan bertunas, tumbuh mengakar, bahkan berkembang biak di tempat yang paling mustahil dan tidak masuk akal sekalipun....."

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya :D
      itu quote dari buku Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah :D

      Hapus
  2. kisah cinta LDR ya?
    semoga bisa lanjut terus tanpa terganggu sama "jatuh cinta pada orang lain"

    BalasHapus
  3. Ditunggu episot berikutnya. hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. gak ada lanjutannya, mik -_-
      gausah ditungguin -_-

      Hapus
  4. cinta itu terkadang aneh ya..

    BalasHapus
  5. Fiksinya keren abesss, diksinya bikin mata melotot pingin liat terus! Keren... Keren...

    Eniwei, ini cerita kisah cinta yang mau LDR-an gitu ya? Tenang , cinta sejati memang banyak lika-liku untuk mendapatkannya. Tapi, kalau emang jodoh pasti dipertemukan kembali.

    Oh iya, ini sebenernya fiksi atau kisah nyata ya? kayaknya pengalaman pribadi penulis sih ini... *kabur

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihiw makasih rifqi, hati-hati bola matanya yaaa :p
      iya setuju :)
      ini bukan aku labeli fiksi emangan :D emang kisah nyata

      Hapus
  6. Pasti ini pengalaman pribadi ya ? HAHAHA

    BalasHapus
  7. Saya sejutu kalau cinta itu bukan kata gombal, tetapi sebuah komitmen.

    BalasHapus
  8. Oh lagi baca buku Tere Liye?
    Aku sih baru baca satu buku. Yang judulnya: "Ayahku Bukan Pembohong"

    BalasHapus
  9. jadi kita harus menunggu sampai cinta sejati itu datang atau gimna nih..

    BalasHapus
    Balasan
    1. menunggu sampai sang waktu mempertemukan, tapi ya tetep usaha buat nemuin cinta sejati itu dong, bang. *bijak

      Hapus
  10. hebat nih penulisannya terlalu detail sampai-sampai ceritanya jadi keren..

    BalasHapus
  11. Jodoh dan cinta sejati itu nggak bisa ketebak emang. Kadang harus nyari dulu sampai keujung dunia, padahal udah ada di depan mata. Harus LDR-an dulu padahal yang deket kita malah esok jadi jodoh kita. Haha unik memang. Btw Lis, fiksinya keren ikih \o/

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul, Nof. cara setiap orang bertemu jodohnya emang beda-beda dan unik :3
      btw, ini sebenarnya bukan fiksi :D

      Hapus
  12. Cinta bukan kalimat gombal <-- tapi sekarang kok banyak yang jadiin gombalan gitu ya. Seperti, bapak kamu adeknya monyet ya? Gitu!

    BalasHapus
    Balasan
    1. aduh, Rob. gombalan kamu gak banget -_-

      Hapus
  13. Diksinyaaaa.. pengen bisa juga :(
    kalo cinta bukan kalimat gombal, Berarti yang ngegombal bukan cinta dong (?)

    BalasHapus
    Balasan
    1. ayo belajar bareng :))

      biasanya gombal itu omong kosong kan? berarti yang gombal bisa jadi bukan cinta :)

      Hapus
  14. Kya kyaaa Tere Liye kyaaaa *salah fokus*. Melted banget abis baca bukunya yang "Bumi". Bukan karena so sweet, tapi imajinasinya keren banget. :'')
    Jadi penasaran salah Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah, boleh nih dicobain baca :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku malah belum beli -_- masukin daftar list buku yang pengen dibeli jika sudah punya duit deh :D
      boleh, Meg. kereeen banget bukunya hihiw

      Hapus
  15. itu buku recommended ya Kak? Belum pernah baca Tere Liye yang itu,sih.
    Hahaha, aku jadi keinget awal-awalnya aku kira Tere Liye itu cewek,lho. hehehe..
    salam kenal ya, aku ada kado nih buat kamu. Buka di link bawah ini ya :)

    http://magical-koinouta.blogspot.com/2014/07/got-liebster-award.html

    BalasHapus
    Balasan
    1. yes, recommended banget kl menurutku hehe
      waaah makasih yaaa kadonya :))

      Hapus

Komentar adalah caraku untuk mengendus jejakmu *halah*. Hayo, komentar biar gue bisa ngendus jejakmu! Haha :D