Rabu, 28 Mei 2014

Tak Perlu Malu

“IBU, AKU LULUUUUUUUUS!”

Aku menghampiri anakku yang berlari dan berteriak girang ke arahku. Menyambutnya dengan senyum termanisku, “Benarkah, Nak? Alhamdulillah. Ibu bangga padamu.”

“Iya, Bu. Fika dapat nilai 36,70. Fika masuk 20 besar, Bu.”, matanya berbinar, memancarkan kebahagiaan yang merambati tubuhku. Aku bangga dengan anakku. Bangga pada anakku yang selalu membuat semangatku terpacu. Bangga pada anakku yang tidak pernah malu. Malu mengakui bahwa akulah ibunya, ibu yang melahirkan dan merawatnya sampai menjadi seorang anak yang lucu.


“Bu, kata ibu kemarin kalau Fika sudah lulus SMA, Fika boleh meminta sesuatu, kan?”

“Iya, Nak. Kamu mau minta apa?”

“Aku mau makan ayam panggang restoran seperti dulu, Bu.”

Aku menelan ludahku dan terdiam cukup lama, “Iya, Nak. Ibu akan membelikan itu untukmu.”

Aku memandangi anakku, mengelus pundaknya, dan terus memandanginya, sampai tersadar bahwa dia memang sudah dewasa, bukan anak perempuan kecil yang lugu. Samar-samar sebuah senyum menghiasi wajahku.

“Ah Fikaku, rasa cinta ibu tidak pernah terhitung untukmu. Cinta ibu kepadamu terasa nyata dalam hatimu, walau tak selalu ibu mampu mengungkapkan itu. Rasa bangga ibu kepadamu telah memenuhi rongga hati ibu. Fikaku, hanya kamu yang mampu membuat ibu merasa kuat, di saat hidup benar-benar terasa berat dipikul di pundak ibu. Hanya kamu yang mampu menerangi jalan ibu, di saat kegelapan tak lagi dapat ditaklukkan lampu. Hanya kamu yang mampu mengobati sakit ibu, di saat semua jenis obat warung menyerah tak mampu. Fikaku, hanya kamu yang mampu mengokohkan kebahagiaan ibu yang tertunduk layu. Fikaku, ibu sayang padamu.”, aku hanya mengungkapkan semua rasa cinta dan banggaku padanya dalam hatiku. Tak selalu benar-benar berani mengucapkan itu lewat mulutku.

“Bu....Bu..... Ibu kenapa, sih? Kok melamun?”

Tangannya mengguncang tubuhku. Tangannya ternyata sudah bertambah besar, tidak mungil lagi seperti 11 tahun yang lalu. Saat pertama kali kugandeng menuju sebuah sekolah elit di daerah Jongbiru. Kami dulu orang kaya, banyak harta, dan rumah dimana-mana, tapi itu dulu. Sebelum kebangkrutan dan kemlaratan menimpa keluargaku. Semua rumahku habis terjual untuk membayar hutang suamiku. Mobil, emas, berlian, dan semua hartaku habis tak menyisakan rupa untukku. Semua peristiwa itu seperti api, api yang membakar semangat hidupku menjadi abu.

Dan sekarang inilah kehidupanku. Jika dulu, kami tinggal di komplek perumahan elit, dengan rumah mewah dan megah, sekarang kami tinggal di bantaran sungai, dengan rumah yang kumuh dan penuh debu. Jika dulu, kami dengan mudahnya menghambur-hamburkan uang hanya untuk membeli baju, sekarang untuk memberi uang saku Fika saja aku harus berkeliling menjajakan minuman di terminal terlebih dahulu. Jika dulu, setiap hari aku melihat suamiku berjudi, sekarang sudah tak pernah lagi, dia sudah mati, mati bunuh diri dengan minum racun tikus murahan di samping perahu. Jika dulu, setiap ada koleksi berlian baru, langsung buru-buru kugesek ATM-ku, sekarang untuk makan setiap hari, terkadang aku harus memulung terlebih dahulu, jika memang minuman yang kujajakan tak ada yang laku.

Betapa terasa berat kehidupanku sekarang, berbanding terbalik dengan kehidupanku dulu. Kehidupan yang harus kulewati walau banyak nyamuk menjelma jadi kupu-kupu. Nyamuk yang setiap hari menyesap darahku, darah yang menghidupkanku. Hingga akhirnya aku jadi wanita tua yang sayu. Tapi lama-lama nyamuk malah kuanggap kupu-kupu, aku telah terbiasa dan menerima semua itu. Memang inilah hidup, terus berputar bagai roda, bisa terjatuh, terbalik, bisa di atas, bisa di bawah, benar-benar telah kusadari walau pilu.

Jika bukan karena Fika, aku pasti sudah menyerah tak mampu. Menyerah pada waktu. Atau meminta Tuhan mencabut paksa nyawaku. Memang aku ini wanita dungu. Tidak sadar bahwa ada malaikat kecil yang setia menemani setiap langkahku.

“BUUUUUUU! Ibu kenapa melamun terus, sih? BUUUU!”

Fika berkali-kali mengguncang tubuhku. Aku gelagapan, mukaku merah bersemu malu. Malu ketahuan habis melamunkan masa lalu.

“Iya, Nak. Ibu tidak apa-apa. Ibu berangkat dulu ya, mau membelikan kamu ayam panggang restoran.”, aku tersenyum kaku.

“Fika ikut ya, Bu?”

“Tidak usah. Kamu di rumah saja, istirahat.”, aku bergegas mengambil minuman daganganku.

“Semoga dagangannya laris manis ya, Bu.”

“Iya, sayang.”, aku melambaikan tanganku.
ᴥᴥᴥ

“Ya Tuhan, kenapa hari ini sepi sekali?”, aku mendongakkan kepalaku menatap langit yang sedikit mendung kelabu. Aku menyeka keringat yang meleleh di pelipisku.

“MINUMAN DINGIN, MINUMAN DINGIN, SPRIT, FANTA, COCA-COLA, SUSU KEDELAI, LIMA RIBU, LIMA RIBU.”, aku terus menjajakan daganganku kesana-kemari, menawarkannya pada setiap orang yang kujumpai di Terminal Baru.

“Bu, coli-coli tiga, finti satu.”, seorang perempuan menghampiriku.

“Ah, iya, Mbak.”, aku buru-buru mengambilkan minuman pesanannya, rejeki untukku.

“Ini, Mbak. Dua puluh ribu.”

“Trimakasih.”, dia menyodorkan selembar uang dua puluh ribuan dan berlalu.

Kuusapkan kedua tanganku pada mukaku sebagai wujud syukurku sembari berkata, “Alhamdulillah.”

Kulangkahkan kakiku, keluar dari pelataran Terminal Baru dan berbelok ke selatan menuju sebuah restoran, restoran milik temanku dulu. Sampai disana aku malah terdiam kaku di depan pintu masuk, memandangi pakaianku.

“Jika saja aku masih jadi orang kaya, rasanya pantas saja aku masuk ke restoran itu, tapi sekarang aku sudah mlarat, sepertinya sudah tak pantas kesitu.”, aku bergumam, berdiri mematung di depan pintu. Tapi kemudian aku teringat wajah Fika dan matanya yang berbinar ketika mengucapkan keinginannya itu. Dan akupun menyerah, akhirnya kupaksa kedua kaki yang menopang tubuhku untuk melangkah memasuki pintu kaca bertuliskan “Restoran Dapur Ibu”.

Masih beberapa langkah, seorang lelaki berpakaian putih hitam menghampiriku. Aku menghentikan langkahku dan memandangi pengunjung restoran yang duduk bertebaran di kursi-kursi kayu.

“Maaf. Pengemis dilarang masuk.”, laki-laki itu berbicara ke arahku. Raut mukanya mengingatkanku pada raut kesombonganku dulu.

Aku menundukkan pandangan mataku, menahan rasa sakit yang menyelinap dalam dadaku, “Saya bukan pengemis, Pak. Saya hendak membeli sebungkus ayam panggang disini.”

“Oh, maaf, Bu. Saya kira ibu pengemis, karena pakaian ibu compang-camping. Saya ambilkan pesanan ibu dulu.Silahkan duduk.”, dia tersenyum kaku, rautnya berubah malu.

Aku mengangguk sebagai jawabanku. Dan duduk di kursi kayu untuk menunggu. Sesekali kulirik kiri kanan dan kemudian menundukkan mukaku. Aku merasa semakin gerah berada disini, tidak seperti dulu. Mungkin sekarang raut mukaku lebih mirip seperti pencuri yang dulu melancarkan aksinya di rumah Pak Jono, orang yang dianggap paling kaya di kampungku.

“Bu, ini pesanannya. Tiga puluh ribu total semuanya.”

Aku menghitung lembaran uang yang kutarik dari saku bajuku dan menyerahkannya pada pelayan laki-laki yang mengantar pesananku.

“Trimakasih. Sekali lagi kami mohon maaf, Bu.”

Aku hanya tersenyum mendengar itu dan melangkah pergi meninggalkan pelayan yang masih berdiri menungguku sampai berlalu.
ᴥᴥᴥ

“Assalamualaikum. FIKAAAA. Ini ayam panggang kesukaanmu.”

“IBUUUUUU. MANA, BU?”, kulihat anakku bersorak kegirangan, menepis rasa sakit yang masih menyelimuti hatiku.

Aku menyodorkan sekotak ayam panggang kesukaannya dulu. Ya, dulu saat kami masih banyak uang untuk membeli apapun yang mata kami tuju. Dan seingatku, inilah pertama kalinya kubelikan ayam panggang untuknya setelah sepuluh tahun kemlaratan membelengguku. Menyaksikan Fika dengan lahap mengoyak daging ayam panggang yang kubawa, betapa pilu hatiku. Rasanya, “Ibu macam apa aku ini? Membelikan makanan enak untuk anaknya saja tak mampu.”

Lamunanku terpecah, “Ibu mau? Fika suapin ya, Bu?”

“Ibu sudah kenyang. Kamu habiskan saja.”, sesungguhnya perutku sudah berdendang minta diisi, tapi kutahan saja, aku sudah kenyang menyaksikan kebahagiaan anakku.

Kulihat dia menjilati tangannya yang belepotan bumbu. Aku ikut menelan air liurku. Sudah tak tahan menahan gejolak perut laparku, aku beranjak meninggalkan Fika menuju warung untuk membeli kue bolu. Kue ini murah, hanya lima ratus rupiah dan cukup satu buah untuk membungkam rasa laparku.

Setelah kembali ke rumah, aku masih melihat Fika menghadap kotak kardus berwarna putih abu-abu. Kotak itu dijilatinya sampai tak tersisa bekas bumbunya, pecahlah air mataku, pilu.

“Ibu? Ibu kenapa menangis?”

Air mataku terus mengaliri tebing pipiku. Mulut kupaksa mengucapkan kata untuk menjawab pertanyaan anakku.

“Maafkan aku, Nak. Ibu tidak bisa membahagiakan kamu.”

“Ibu kenapa bilang seperti itu? Aku bahagia karena selalu bersama ibu.”

“Apa kamu tidak malu punya ibu seperti ibu ini, Nak? Ibu yang tak punya harta, tak bisa membelikanmu barang-barang mewah seperti yang teman-temanmu punya. Bahkan memberimu uang saku saja ibu tak selalu bisa.”

“Bu, bagiku bukan materi yang bisa membuatku bahagia, ibu ingat ketika kita masih kaya seperti dulu? Apa kita benar-benar merasakan apa itu arti bahagia? Tidak kan, Bu? Kita seperti disetir oleh uang, bernyawa jika ada uang, seperti mayat hidup jika sedang tak punya uang. Memang sekarang kita mlarat, hidup tidak berkecukupan, tidak bisa pergi ke mall, beli baju, perhiasan, tidak bisa naik motor, bahkan sepeda ontel pun tak punya, tapi Fika merasakan sesuatu yang lebih berharga daripada itu semua, Bu. Kehangatan, keintiman, dan rasa sayang yang tidak selalu ibu ungkapkan secara nyata tapi selalu terasa. Fika juga tidak pernah malu punya ibu seperti ibu, bagiku ibu adalah wanita luar biasa yang harus kubahagiakan.”

“Karena itu Fika berjuang untuk bisa sekolah di sekolah favorit dan dapat beasiswa. Fika tidak malu jika harus menjadi murid paling miskin di sekolah Fika, karena disana kita semua sama. Sama-sama menuntut ilmu. Bukan untuk pamer kekayaan. Ya, walaupun disana Fika tidak punya teman dan selalu dihina karena tak punya harta. Fika bisa saja berpura-pura kaya, seperti yang teman-teman Fika lakukan, tapi buat apa? Fika ikhlas, semua untuk ibu. Fika yakin jika Fika bersungguh-sungguh, Fika akan dijemput kesuksesan. Fika hanya butuh berjuang dan selalu ditemani ibu. Hanya itu, Bu.”

Sungguh ini lebih mengharukan dari apapun yang pernah aku rasakan sepanjang hidupku. Aku memeluknya, “Nak, ibu bangga padamu. Ibu sangat menyayangimu. Ibu rela mati untuk melihatmu sukses dijalanmu.”


Kami berpelukan, sesenggukan, dihimpit suasana haru.

15 komentar:

  1. uhuuu... *pelukguling*

    kalo kata adik gua yang masih SD, "Itulah kehidupan"

    BalasHapus
    Balasan
    1. cieee adiknya masih SD, ciee :p

      Hapus
  2. Meski fiksi, ceritanya menarik sekali Mbak. Namun demikian, saya juga yakin cerita ini juga ada dalam kehidupan nyata

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, ini terinspirasi dr kehidupan nyata kok, ya walaupun bukan saya :)

      Hapus
  3. gilaaa keren banget ini ceritanya. jujur, gue sampek tersentuh membacanya. lo keren banget bisa bikin cerita fiksi yan menyentuh banget kayak gini.

    memang kebahagiaan itu tidak hanya diukur dengan uang yang banyak, bisa makan enak, dll. tapi kebahagiaan yang sesungguhnya adalah ketika kita bersama-sama dengan orang yang kita sayang.

    postingan lo kali ini berhasil nyadarin gue betapa besarnya perjuangan seorang ibu demi melihat anaknya sukses. duuh emak mana emak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha makasih. ini belum keren loh, masih belajar.
      iya betul. uang bukan tolak ukur kebahagiaan :)

      Hapus
  4. ceritanya dalem gitu.. mungkin kalau gue bisa nangis gue nangis dan ikutan peluk guling kayak diatas :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. nangis aja lagi, kalo pengen nangis :p

      Hapus
  5. Ini pas banget kalo bacanya sambil dengerin lagu Iwan Fals - Ibu. Daleeeeeemmm :')

    BalasHapus
  6. Huwaah bagus! Tinggal perbaiki tanda bacanya aja nih > “Trimakasih.”, dia menyodorkan.... setelah kutip jangan pakai koma, jadi tanda titik sebelum tanda petik itu yang diganti tanda koma :)

    BalasHapus

Komentar adalah caraku untuk mengendus jejakmu *halah*. Hayo, komentar biar gue bisa ngendus jejakmu! Haha :D