Minggu, 11 Mei 2014

Menunggumu adalah Luka

Ketika kayu tak lagi muda, rapuh, lapuk dimakan usia

ᴥᴥᴥ

Ah, menunggu memang selalu menyebalkan. Bagaimana tidak, jika orang yang kau tunggu tak kunjung datang bahkan tak akan pernah datang, menengok pun enggan. Lalu untuk apa aku menunggu lagi, menunggu hal yang tak pasti, menunggu hal yang hanya meninggalkan goresan luka, menunggu hal yang hanya membuatku rapuh, menunggu hal yang hanya membuatku lapuk? Untuk apa?

Aku mengusap air mata untuk yang kesekian kalinya. Kulihat wajahku kusut kusam, cahayaku meredup. Aku menunduk, mencoba meredakan tangisku, tapi sekali lagi air mata dengan lembut jatuh ke atas tanganku yang menengadah. Aku berdoa supaya aku lupa, lupa denganmu. Lelaki yang menjatuhkan baja di hatiku, meremukkannya, kemudian meninggalkannya tanpa mengumpulkan lagi kepingan-kepingan yang sengaja kau hancurkan.

ᴥᴥᴥ

“Maaf. Sepertinya, lebih baik kita berpisah saja.”

“Kenapa? Bosan?”

“Tidak. Aku rasa kita tidak cocok.”

Aku tertawa kecut, “Tidak cocok itu alasan klise. Lebih baik kamu jujur, itu akan menyiksaku tapi setidaknya aku tahu alasanmu sebenarnya. Dan aku tidak akan mati penasaran karena itu.”

“Aku tidak bisa menjelaskannya. Terlalu rumit.”

“Terlalu rumit katamu?”

“Bilang saja.....bilang saja kamu sudah bosan denganku. Bilang saja kamu sudah jatuh hati dengan wanita lain.”, emosiku meluap.

“Tidak!”, dia membentak.

“Lalu apa? Hah?”

“Aku benci kejujuranmu kemarin. Aku tidak bisa menerima dirimu yang pipinya sudah pernah dikecup lelaki lain.”

Aku tersentak,”Tapi itu dulu.....itu dulu dan aku sudah tak pernah lagi melakukan hal seperti itu lagi.”

"Menyakitkan memang ketika kita harus mendengar yang sebenarnya terjadi, kejujuran yang terbungkus rasa sakit. Tapi bukankah itu lebih baik daripada mendengar kebohongan yang terbungkus rasa bahagia, bukankah kejujuran itu pondasi penyangga hubungan kita, Frans?"

"Jawab, Frans. Jangan diam saja.", suaraku bergetar bercampur dengan tangisku yang tak kuasa dibendung.

Dia meninggalkan aku begitu saja. Lututku lemas.

“Aku akan menunggumu, Frans. Menunggumu sampai kamu memaafkan aku, menerima kejujuranku, dan keadaanku. Aku sudah tidak seperti dulu lagi. Percayalah.”, aku berteriak dengan suara serak.

Tapi dia tetap berjalan, semakin cepat, semakin jauh, dan hilang dalam pandangan.

ᴥᴥᴥ

Aku teringat lagi peristiwa sembilan bulan yang lalu. Seperti biasa aku akan membaringkan tubuhku, menangis, mengusapnya, menangis lagi, mengusap lagi, dan akan seperti itu sampai aku terlelap, tertidur dengan air mata yang membasahi bantalku. Dan bangun dengan mata sembab. Rasanya seperti hidup dalam FTV.

Hah cinta? Apa memang karena cinta aku mampu menunggumu? Seseorang yang tak seharusnya kutunggu, seseorang yang dulu (dan sampai sekarang masih) aku sayangi, seseorang yang dulu (dan sampai sekarang masih) membuatku merasakan duri cinta, seseorang yang tak mungkin kugapai lagi ibarat bintang yang tak mungkin kurengkuh dalam genggamanku.

Ahhh, mengapa kamu selalu membuatku menunggu. Aku bosan. Aku ingin membuka gembok hatiku dan membiarkan gerbang yang selama ini membelenggu hatiku terbuka.  Aku ingin berteriak aku tak ingin menunggumu lagi. Tapi, bayanganmu di bola mataku selalu berhasil menggagalkan niatku. Aku juga ingin berteriak aku ingin melupakanmu. Tapi, sekali lagi aku selalu gagal melakukannya. Ukiran namamu terlalu jelas.

ᴥᴥᴥ

“Mengertilah. Kita masih sama-sama sayang. Aku masih bisa cemburu karenamu. Aku masih tetap menuruti pesan-pesanmu sewaktu kita masih bersama. Aku tetap jaga perasaanmu walaupun aku kamu sakiti. Itu bukti aku masih sayang kamu, Fris. Aku tidak pernah umbar janji, tapi bukti.”

Kini aku masih ingat dengan jelas pesan singkat yang kamu kirim, dua hari setelah kamu memutuskan untuk berpisah dariku. Tertanggal 21 Februari 2012, pukul 19:43. Dan sampai sekarang masih tersimpan rapi dalam memori telepon genggam usangku.

Setelah sembilan bulan menunggu, kamu tahu apa yang aku dapat, Frans? Luka. Lagi-lagi hanya luka yang aku dapat. Disini aku masih bertahan dalam kesendirian, sementara kamu? Kamu menemukan bunga lain. Bunga yang mahkotanya masih sempurna, belum pernah tersentuh lebah.

Kemudian bagaimana bisa aku bertahan dengan luka menganga seperti ini? Bagaimana bisa? Bagaimana bisa mencinta adalah meluka? Bagaimana bisa aku menunggu jawabmu sementara kau takkan pernah menjawab? Bagaimana bisa aku menunggumu sementara kau telah bahagia dengan bunga yang kau pilih?

Aku mendekap kakiku. "Ibarat kaktus  semakin dipeluk semakin menyakitkan.", aku menggumam.

ᴥᴥᴥ

Kediri, malam hari dengan bibir membentuk lengkungan senyum gara-gara dia.

11 komentar:

  1. Kisah nyatakah ini? Oh, malang tenang nasibmu Mbak. Tapi tenang, Allah enggak tidur. Akan ada lelaki yang baik kemudian

    BalasHapus
  2. kalo lebah sih, dia ga bakal terikat, hanya singgah di tempat lain... tinggal tunggu aja kali. :p
    Kenapa sebagai--sebut saja bunga--harus nunggu lebah? padahal dibaliknya ada tangkai yang terus menjunjungnya?

    *cerita galau, ga harus dikomentari galau juga*

    BalasHapus
    Balasan
    1. setuju, bang! lebah jodohnya sama lebah, bukan sama bunga, iya kan?
      *komentar gak galau bisa dikomentari dengan komentar gak jelas*

      Hapus
  3. Ah, Lilis ternyata bisa bikin cerita cinta-cintaan juga ya hahaha semoga ngga terpengaruh sama lelaki-lelaki di luar ya nak :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, mbak :)
      kritik sarannya ya mbak :)

      Hapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus

Komentar adalah caraku untuk mengendus jejakmu *halah*. Hayo, komentar biar gue bisa ngendus jejakmu! Haha :D