Rabu, 09 April 2014

Surat Kaleng Untuk Sahabat

H-5 UNAS.

Oh, betapa cepat waktu berjalan. Merangkak meninggalkan jejak-jejak kenangan. Menyisakan bekas-bekas kebahagiaan dan kesedihan. Dalam hati seorang anak perempuan. Dan itu aku.

Sepertinya baru kemarin kita bersama-sama mengikuti Try Out untuk yang pertama kalinya, disusul Try out-try out berikutnya. Kemudian, kita membabat habis Ujian Kompetensi Kejuruan dan UAS. Lalu, bertarung kembali dengan soal-soal latihan Ujian Nasional. Untuk sebagian siswa, nilai Try Out naik turun diterima dengan lapang dada. Tapi, untuk sebagian lainnya mengeluh, karena nilai dan berat badan yang berbanding terbalik. Nilai turun, berat badan naik. Oh, aku mengerti perasaanmu wahai teman.

Rasa aslinya 3 tahun itu waktu yang sangat panjang, tapi ketika kita semakin dekat dengan gerbang perpisahan, entah kenapa 3 tahun berubah rasanya menjadi sangat singkat.

Sedih? Jangan kamu tanyakan itu. Dilihat dari wajahku saja, kamu akan menemui raut muka gagal move-on dari sahabat. Berat? Sebenarnya tidak. Berapa kilo berat kata perpisahan bila dibandingkan berat gajah yang sedang hamil menggendong badak bercula satu kembar dempet, tidak ada berat-beratnya dibandingkan dengan hewan-hewan itu.

Maka, aku tidak pernah menganggap perpisahan ini sebagai suatu beban yang berat. Hanya mungkin tanganku akan menggenggam erat sebuah tiang rumah, karena tak kuat menahan gravitasi kesedihan. Kalian tahu kan terkadang aku bukan lagi sosok anak perempuan yang kuat?

Hari ini aku membayangkan sang waktu berhenti sejenak, membekukan kalian ketika bibir kalian melengkung membentuk sebuah senyum manis, terlihat ayu dan ganteng sahabat-sahabatku ini :') Kemudian, aku akan menikmati wajah-wajah ceria kalian, mengabadikannya, melihatnya kembali, dan kemudian ikut tersenyum. Ah, ya ampun. Kalian tahu tidak, aku benar-benar tersenyum saat ini :)

Ah iya, kemarin aku sempat menjadi anak perempuan yang jahat. Mendoakan kalian supaya tidak menemukan sahabat sepertiku ketika kita sudah benar-benar berpisah. Aku ketakutan membayangkan diriku terlupakan, terpendam dalam ingatan, kemudian tergantikan dengan kenangan-kenangan baru yang kalian rajut bersama sahabat barumu. Ah, itu terlalu mengerikan dibandingkan dengan bungkusan sepotaker. Dan yang lebih mengerikan adalah ketika aku yang pelan-pelan mulai melupakan kalian. Dua hal itu sama-sama mengerikan. Hiiiiii.

Yang sangat aku sesali, kenapa kita berjalan menuju gerbang perpisahan ketika kita sedang hangat-hangatnya merajut persahabatan? Oh, yaaaaa demi apa ini sedikit menyakitkan. Menyakitkan karena tahu bahwa kita mau tidak mau harus melewati gerbang perpisahan itu. Dan mulai berjalan maju melewati jalan yang kita pilih. Jalan yang mungkin berbeda. Satu lurus, satu belok kanan, satu belok kiri, satu lewat gang kelinci.

Tapi, waktu memang tercipta untuk terus maju, terus berputar menambah angka, menambah hari, menambah bulan, menambah tahun, pantang mundur.

Ah, yasudahlah. Aku tahu bahwa setiap pertemuan pasti ujung-ujungnya adalah perpisahan. Kata si "Berantakan", "Ini hanya soal waktu." Dan ya memang benar. Sekarang memang waktunya kita untuk berpisah. Berpisah untuk bertemu :)

Kalian :) Tetap jadi sahabatku, ya. Sahabat terkerenku :))

17 komentar:

  1. Sedih ya, berpisah pas masih hangat-hangatnya...

    Ini awal, awal untuk menemukan teman dan sahabat baru :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. puk puk dong, bang :D
      sip setuju :))

      Hapus
  2. Kenapa ya lebih suka membaca tulisan Lilis yang ber-aku-kamu dari pada bergue-elo? Hahaha karakter Lilis si gadis berkerudungnya lebih dapet atau emang seleranya Asma yang begini ya :p
    Sedih banget emang awalnya kalo pisahan. Tapi lebih sedih lagi kalo setelah pisah, punya kehidupan masing-masing dan setiap kali telpon di reject. Huft.

    BalasHapus
    Balasan
    1. selera mbak asmi kali ya hihiw :D

      aku gak mau begitu kl udh pisah besok :(( gak mau :(

      Hapus
    2. sini gue pukpuk pake kaleng....
      berpisah kan keharusan karena adanya bertemu. nanti juga bakal ketemu lgi kan, insyaallah. sepakat aja ama kata mbak Asma, dan yg bikin sedih juga, saat kumpul malah asik dengan gadgetnya. itu ... ... ...

      Hapus
    3. jahat bgt pukpuk gue pake kaleng -_-
      iya, bang. iya. gue tau :))
      cuma gue msh nyaman gitu sm mereka, jd gue berat bgt harus pisah di saat nyaman2nya barengan sm mereka :"

      Hapus
  3. waduhhh baru inget kalo besok senin udah ujian... aaaaakk aku belum belajar! :(

    BalasHapus
  4. Nggak rela juga sih pisah sama sahabat-sahabat, tapi ya udahlah :)
    Berpisah untuk bertemu yey

    BalasHapus
  5. sedih pisah sama sahabat, tapi nanti di tempat baru bakal ketemu sama sahabat baru. sante aja :)

    BalasHapus
  6. Haduh... Jadi inget waktu SMA apalagi waktu perpisahan. Pada janji akan tetap kabar2an to janji tinggalah janji. Pada sibuk sama kuliah masing-masing. Yah jadi galau deh...

    Tapi bener pas kelas 1 lama bgt rasanya sekolah.. Eh pas kelas 3 bentar banget. Gak berasa udh UN aja.. -.-

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah, itu yang gue takutin. janji tinggalah janji.

      la ini malah udah selesai UN. padahal baru kemarin kenaikan kelas -__-

      Hapus
    2. nah, itu yang gue takutin. janji tinggalah janji.

      la ini malah udah selesai UN. padahal baru kemarin kenaikan kelas -__-

      Hapus

Komentar adalah caraku untuk mengendus jejakmu *halah*. Hayo, komentar biar gue bisa ngendus jejakmu! Haha :D