Jumat, 18 April 2014

Ketika Kerinduan Itu Ada

Aku menunduk lesu, air mata meleleh menuruni tebing pipiku yang memerah karena terlalu lama menangis. Mati-matian aku meredam suara tangisku. Sesenggukan di depan kaca rias. Berusaha berhenti tapi ada daya hasil malah berbanding terbalik.

Entah kenapa hari ini mendung yang bergelantungan di hatiku berhasil membuat hujan air mata turun membasahi tanah kulit kuning langsatku. Setelah sekian lama tanah ini kekeringan tidak pernah turun hujan, akhirnya mendung dengan mantra yang dirapalkannya berhasil mengundang air hujan datang kembali.

Jangan ditanya apa yang membuatku menangis. Karena sesungguhnya aku pun tak tahu. Mungkin karena terlalu lama tidak menangis atau karena terlalu lama bermain peran berpura-pura baik-baik saja menanggung beban yang sebenarnya tidak berat tapi "terasa berat".


Selama ini kesedihan selalu bersembunyi dibalik tawa ceria yang kudendangkan ketika bersama teman-teman. Mereka percaya-percaya saja dengan akting amatirku itu. Tidak pernah merasa curiga, apalagi bertanya. Dan jika aku boleh berkata, aku lebih nyaman bermain peran baik-baik saja daripada harus memperlihatkan kesedihan yang (mungkin) akan membuat mereka ikut hanyut dalam kesedihanku.

Ya aku percaya, bahwa sepintar apapun dan selama apapun aku berpura-pura baik-baik saja, akan ada saatnya aku harus jujur. Jujur mengakui bahwa aku sebenarnya tidak sedang baik-baik saja. Aku menanggung kesedihan luar biasa. Aku sedang terluka. Luka yang selama ini kubiarkan menganga, tidak kuobati, malah tidak kupedulikan keberadaanya, pada waktunya dia akan memintaku untuk menengoknya lantas kemudian mengobatinya.

Tapi dengan apa aku harus mengobatinya? Bahkan aku pun tak tahu sebab apa luka ini bisa ada dalam diriku. Jadi, mana mungkin aku tahu obatnya kalau penyebabnya pun aku tak berhasil menemukannya.

Tapi tunggu, sepertinya saat aku menangis tadi, aku berhasil menemukan penyebab luka itu bisa ada. Mungkin, karena terlalu banyak kata "dipaksa" dalam hidupku. Dipaksa baik-baik saja, dipaksa jadi anak perempuan yang kuat, dipaksa menuruti setiap perintah, dipaksa tidak merindukan mereka, dipaksa pelan-pelan melupakan mereka yang membuatku ada.

Melupakan sepasang perempuan laki-laki yang menyatukan sel jantan dan sel betinanya sehingga aku bisa ikut bermain sandiwara dunia. Mereka yang menjadi perantara Allah agar aku bisa menghirup, menikmati nafas kehidupan.

Mereka orang tua yang kupilih untuk kutinggalkan 11 tahun lalu. Aku yang sengaja memilih untuk dipisahkan dari mereka. Apakah itu suatu kebodohan? Meninggalkan perempuan yang susah payah mengandungku 9 bulan, apa itu suatu kebodohan? Mungkin. Aku pun tak tahu dan (ingin berpura-pura) tidak mau tahu. Dulu kupikir aku akan lebih baik disini dan ya memang benar. Tapi, satu hal ini berhasil membuat semuanya berbalik.

Kerinduan. Kerinduan yang membuncah. Kerinduan yang enggan ditahan. Kerinduan yang mencari jalan pulang. Kerinduan yang meminta dipertemukan. Kerinduan yang membisikkan kata-kata penggugah air mata. Kerinduan yang berhasil membuat air mata menganak sungai. Kerinduan yang mendatangkan kembali kesedihan yang pura-pura kusembunyikan. Kerinduan yang dipaksa dimatikan.

Seorang wanita, wanita yang kupilih untuk menjadi Ibu baruku memaksaku mematikan rasa rinduku kepada mereka. Memaksaku untuk perlahan-lahan mulai melupakan mereka. Memaksaku untuk pelan-pelan hanya mengingat mereka ketika aku butuh mereka. Memaksaku untuk tidak menemui mereka ketika aku benar-benar merasa rindu dan ingin bertatap mata dengan mereka. Memaksaku hanya menemui mereka dalam bunga tidur malam hari.

Aku tahu takdirku ada disini, di kota kecil ini, di rumah sederhana ini. Aku tahu memang aku harus ada disini, aku tahu. Aku benar-benar paham dengan ini semua. Tapi bolehkah aku meminta? Aku hanya ingin mereka, perempuan laki-laki yang membuatku ada, tetap kau biarkan hidup dalam ingatanku. Jangan memaksaku pelan-pelan melupakan mereka.

Sungguh, aku tak punya niat meninggalkan kalian sendirian disini. Hanya saja aku meminta, ijinkan aku tidak meninggalkan bayang wajah mereka, perempuan laki-laki yang membuatku ada, bayang mereka biarkan tetap tinggal dalam retina hatiku. Biarkan.

Tapi, kenapa aku tetap dipaksa melupakan mereka pelan-pelan? Tahukan kalian bahwa ini adalah luka yang pelan-pelan memperlihatkan diri? Luka yang aku tak tau bagaimana cara mengobatinya.

Lalu aku bisa apa?

Kediri, H+2 UN. Fiksi malam hari. Sedang tidak karuan ditengah ranjang.

8 komentar:

  1. aku pun merindukan mereka, mereka adalah sebab berpijaknya ku di bumi.

    ini cuma soal waktu.. dan sang waktu tak mungkin tega membentangkan ruang hingga kita tak mampu merangkul kedua pundak mereka

    BalasHapus
    Balasan
    1. ini cuma soal waktu :)) yes, i know

      Hapus
  2. Ceritanya bagus banget kak, mau donk kalau ada lanjutannya :)

    BalasHapus
  3. Aslik. Ceritanya bagus terus penulisannya juga keren... Kerennnn.... Ajarin nulis fiksi dongggg.... Hehehe

    BalasHapus
  4. Ini sih fiksi yang dicampur sama curhat :p

    BalasHapus

Komentar adalah caraku untuk mengendus jejakmu *halah*. Hayo, komentar biar gue bisa ngendus jejakmu! Haha :D