Sabtu, 16 Agustus 2014

Jangan Pergi

Aku kembali menatap langit biru dengan saputan awan. Mentari tersenyum, gagah bertengger. Sudah satu jam aku menunggu di sini. Petugas kebersihan sibuk mengayunkan gagang sapu sumber rejekinya. Jalanan mulai ramai lalu lalang kendaraan. Debu beterbangan. Klakson kendaraan memekakkan telinga. Tapi aku kesepian.

Tiba-tiba aku teringat sesuatu, “Oh Tuhan, aku lupa.” Dan aku berlari, cepat menelusuri jalanan rumahku.

“Dimana kamu? Kenapa aku jadi pelupa begini? Tidak. Jangan-jangan? Ah, tidak mungkin.”


Aku sibuk bertanya pada diriku sendiri, mengobrak-abrik isi almari, tempat peralatan mandi, sampai rak sepatu. Tapi, belum juga ketemu.

“Oh, tidak. Aku tidak akan kemana-mana sampai dia kutemukan. Aku tidak bisa pergi tanpa dia. TIDAK BISAAAAA.” Aku berteriak kalap. Menangis, jatuh tertunduk di depan rak sepatu.

“Cukup satu yang pergi dan tidak kembali. Cukup. Kamu jangan pergi.” Isak tangisku semakin keras terdengar. Miris. Tidak akan ada yang terganggu dengan suara tangisku, aku sendirian.

Dimana letak surga itu, biar kugantikan tempatmu denganku...

“Hallo?”

“Hallo, Sha. Kamu dimana?”

“Maaf, Vin. Tadi aku balik ke rumah. Ada yang ketinggalan.”

“Kamu cepet ke sini. Aku udah nunggu dari tadi.”

“Kamu berangkat duluan aja deh, Vin.”

“Kamu gimana sih, tahu gitu aku gak usah capek-capek nunggu kamu.”

“Maaf, ya Vin.”

Tut tut tuuuut. Sambungan diputus oleh Vina.

Aku kembali bergumam, “Kamu dimana?”

Mataku pelan mulai membasah lagi. Satu bulir air merekah, menggelayut di pelupuk mataku. Siap meluncur di tebing pipiku. Sempurna, kenangan lama itu kembali mengaduk-aduk perasaanku. Menggelegar bagai petir yang membuat hatiku kembali berawan. Aku yang sebulan ini mulai ceria, sempurna kembali menjadi perempuan berkabut kesedihan.

ᴥᴥᴥ

Malam itu aku menunggumu di depan gang rumahku. Katamu kamu akan datang, mengajakku pergi ke suatu tempat yang kamu tak mau memberitahukannya. Aku menurut saja, tidak banyak tanya.

“Kamu tunggu aku, ya. Jam lima aku datang jemput kamu. Jangan lupa.”

“Kita mau kemana? Nonton? Beli buku?”

“Rahasia. Haha. Surprise buat kamu.”

“Rahasia? Ya udah aku nurut aja.”

Kamu tidak datang malam itu. Setelah berjam-jam aku menatap jalanan. Sampai langit indah bertabur bintang gemintang lenyap terganti awan hitam, kamu tak kunjung datang. Sampai pasukan air hujan menyerbu dan sampai alam kembali terang, kamu tak kunjung datang. Sampai aku lelah, kedinginan, mengantuk, dan akhirnya menyerah. Kembali pulang, menyusuri jalanan rumah dengan kepang rambut menggelayut lemah di sela-sela telinga, beberapa menutup wajahku yang pucat menggigil.

“Dimas dimana?”

Berkali-kali aku menggumam kalimat itu, tapi sampai esok hari kamu tak kunjung datang. Aku hanya menemukan sebuah kotak merah di meja depan rumahku, dengan sebuah cincin permata anggun terkurung di dalam sana. Dan secarik kertas berisi permintaan maaf serta ucapan perpisahanmu. Kamu pergi dan tidak kembali. Semua teramat cepat dan tak terduga.

ᴥᴥᴥ

Aku berjalan tergesa menuju kamar mandi.

“Ya Tuhan terima kasih.”, aku mencium cincin permata pemberian darinya yang ternyata tertinggal di samping bak mandiku.


“Jangan pergi, cukup dia saja yang pergi. Kamu satu-satunya yang kupunya, satu-satunya harapan yang akan menyembuhkan kerinduanku padanya. Satu-satunya mentari yang akan mengeringkan basah hujan kerinduanku padanya. Satu-satunya pelangi yang akan mengganti gelayut mendung kerinduanku padanya. Jangan pergi, kamu begitu berarti untukku—bahkan sampai aku mati menemui Dimas.”


14 komentar:

  1. HAHAHA asem! Endingnya aku pengen nangiiissss Lis. Flash fiction, ceritanya singkat, tapi sukses bikin hatiku ikut teriris.

    Btw, kenapa si Dimas pergi? Ke mana? Kenapa? Kenapa dia pergi dan cuma meninggalkan cincin? Jahat :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. hwaaaaah, mbak dwi ekspresif banget euyyyy.
      haha. dia pergi dan tidak kembali mbak ;") huhuhu

      Hapus
  2. mencari surga untuk bisa menggantikan tempatnya.....luarbiasa ini kisahnya....
    keep happy blogging always...salam dari Makassar :-)

    BalasHapus
  3. Aku gak pergi kok wahahahaha...... -_- keren tulisannya menyentuh sekali :)

    BalasHapus
  4. Bisa aja nih mba lilis...
    Cincinnya lebih penting, Nice story..
    Salam kenal

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe iya.
      trimakasih salam kenal juga :')

      Hapus
  5. Dimas nggak pergi. Dimas itu temenku. Dia ada di rumahnya sekarang.

    BalasHapus
  6. Hiyaaa... endingnya :((
    Jangan pergi dong Dimas..

    BalasHapus
    Balasan
    1. yah sayangnya Dimas terlanjur pergi :'))

      Hapus

Komentar adalah caraku untuk mengendus jejakmu *halah*. Hayo, komentar biar gue bisa ngendus jejakmu! Haha :D