Aku termangu dalam lamunan
membayangkan wajahmu yang jauh dalam jangkauan tanganku. Terpisah jarak dan
ruang sekian kilometer. Dibungkam waktu yang hanya dua puluh empat jam dalam
sehari. Apa tidak bisa lebih? Sementara kesibukan menyejajari setiap detik yang
berlalu. Dua puluh empat jam berjalan bagai kilat, cepat dan singkat hanya
untuk mengingat sosokmu.
Aku belum pernah merasa sedemikian
berat menjalani hubungan ini, sayang. Kamu ingat, kita selalu tahan banting
menghadapi berpuluh masalah, mulai dari masalah sebesar kutu sampai masalah
maha dahsyat yang hampir menenggelamkan cerita kita selama tiga tahun ini.
